Merawat Warisan Leluhur di Gerbang Nusantara, Bupati PPU Buka Festival Belian Adat Paser Nondoi 2025

0
319

PENAJAM — Suara tabuhan gendang menggema di halaman Rumah Adat Kuta Rekan Tatau, Senin (3/11/2025) siang. Di tengah balutan busana adat dan aroma dupa yang menguar, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor melangkah khidmat menuju panggung kehormatan untuk membuka secara resmi Festival Belian Adat Paser Nondoi Tahun 2025.

Festival ini menjadi penyelenggaraan pertama di masa kepemimpinan Bupati Mudyat Noor, sekaligus menandai semangat baru dalam upaya pelestarian budaya daerah di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sebagian wilayahnya berada di Kabupaten Penajam Paser Utara.
Belian Nondoi bukan sekadar ritual adat, melainkan doa kolektif masyarakat adat Paser sebagai bentuk penghormatan kepada alam dan leluhur, serta ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi ini lahir dari komunitas adat di Kelurahan Sepan, dan pertama kali digelar pada tahun 2007.
Melihat nilai spiritual dan kultural yang tinggi, pada tahun 2014 Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara memperkenalkan tradisi ini ke tingkat kabupaten hingga kini menjadi agenda budaya tahunan yang dinantikan masyarakat.

Setiap pelaksanaan Belian Nondoi selalu diiringi simbol-simbol penyucian dan doa keselamatan bagi negeri — refleksi spiritual masyarakat Paser untuk hidup selaras dengan alam semesta.

Festival tahun ini mengusung tema “Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai”, yang bermakna Satu Ikatan Sebangsa dan Satu Tanah Air. Tema ini menggambarkan pesan moral untuk memperkuat rasa persaudaraan, gotong royong, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Paser.

Rangkaian kegiatan diawali parade budaya yang menampilkan perwakilan dari OPD, sanggar seni, serta berbagai paguyuban daerah. Ragam warna busana adat, denting musik etnik, dan tarian tradisional menghiasi jalanan menuju lokasi acara, menciptakan suasana semarak namun sarat makna.

Suasana menjadi semakin khidmat ketika dilakukan prosesi adat Notok Towu, yakni penobatan Bupati, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD PPU sebagai warga kehormatan masyarakat adat Paser. Prosesi ini dipimpin langsung oleh Ketua Lembaga Adat Paser (LAP) dan Ketua Umum DPP LAP, disaksikan ribuan warga dan tamu undangan.

Acara dilanjutkan dengan pemotongan tebu dan penyerahan kelapa dari tamu kehormatan kepada Sultan Paser, Ketua Umum DPP LAP, dan Ketua DPD LAP PPU, sebagai simbol penghormatan terhadap kesucian, keseimbangan, dan harmoni antara manusia dan alam.

Ketua Lembaga Adat Paser PPU, Musa, dalam sambutannya menjelaskan bahwa falsafah Jakit Aso Erai Siret, Dalai Aso Erai Urai telah menjadi pedoman hidup masyarakat adat Paser sejak dahulu kala.

“Falsafah ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, persatuan, dan gotong royong dalam membangun peradaban bangsa. Belian Nondoi adalah bagian penting dari identitas budaya Paser yang sarat nilai luhur dan kearifan lokal. Kita wajib menjaganya agar tidak punah ditelan zaman,” ujar Musa.

Ia berharap festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan mencintai budaya Paser. Selain itu, ia menilai kegiatan ini dapat menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Musa juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU yang tahun ini menuntaskan masa tugasnya sebagai ASN, serta kepada Bupati Mudyat Noor dan Ketua DPRD PPU Rauf Muin yang telah menunjukkan komitmen dalam pengembangan kebudayaan daerah.

“Kami sangat berharap Lembaga Adat Paser terus dilibatkan sebagai mitra pemerintah dalam pembahasan kebijakan pelestarian budaya, termasuk Perda inisiatif DPRD tentang kebudayaan daerah,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Bupati Mudyat Noor menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan, terlebih di tengah perubahan besar akibat pembangunan IKN.

“Melalui Festival Belian Adat Paser Nondoi ini, saya mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama merawat dan melestarikan kebudayaan lokal sebagai jati diri bangsa,” ucap Bupati.

“Budaya Paser bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga nilai luhur yang relevan untuk membangun masa depan. Mari jadikan budaya sebagai kekuatan moral dalam menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi,” tambahnya.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada para pemangku adat, budayawan, seniman, dan masyarakat yang dengan tulus menjaga tradisi Belian Nondoi agar tetap lestari.

“Semoga festival ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Masa depan budaya tidak hanya bergantung pada para tetua adat, tetapi juga pada semangat generasi muda,” tegasnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian kebudayaan melalui program pembinaan, dokumentasi, serta promosi budaya Paser di tingkat nasional bahkan internasional.

Usai sambutan, dilakukan pemasangan Gitang dan Tipong Tawar kepada Bupati, Wakil Bupati, dan Ketua DPRD oleh Mulung Suwis Santoso sebagai simbol penyucian diri. Selanjutnya dilakukan penabuhan gendang bersama oleh Bupati dan Wakil Bupati, disusul Ketua DPRD, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata PPU dan Kaltim, perwakilan Otorita IKN, Sultan Paser Aji Muhammad Jarnawi (Sultan Muhammad Alamsyah III), Pemangku Adat Aji Muhammad Natsir (Kakah Demong Agong Natadiningrat II), serta jajaran Forkopimda, Sekda, Ketua TP PKK PPU, dan tokoh adat lainnya.

Suasana khidmat bercampur haru saat gendang ditabuh bersamaan, menjadi simbol kebersamaan dan harapan agar adat serta budaya Paser terus hidup di tengah arus modernisasi.

Festival Belian Adat Paser Nondoi 2025 bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga manifestasi cinta tanah air dan pengingat akar sejarah masyarakat Paser yang hidup berdampingan dengan alam.
Melalui kegiatan ini, masyarakat PPU menegaskan bahwa pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan jiwa dan identitas budaya.

Festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang tidak hanya menghidupkan tradisi leluhur, tetapi juga membuka peluang baru bagi pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya di Kabupaten Penajam Paser Utara — Benuo Taka, Gerbang Nusantara.(Wan/*DiskominfoPPU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here